Fairy Tale At Night

Fairy is flying around the world. Spread the pixie dust to all children and human. Make them believe to miracle and to love. At night, all fairies wake up from their long hibernation. Only to whisper to the creatures, that music and love, are two things which make ur life's going better... That fairy... is me... ^^


Tubuh memang harus selalu dijaga girls. Jangan sampai kalian mengalami seperti yang ku rasakan sekarang, saat jadwal tengah padat-padatnya, tekanan darah ku drop sampai ke titik mengkhawatirkan. Ya, mungkin tidak sampai akut sehingga aku perlu dibawa ke rumah sakit. Paling tidak, cukup membuat aku was-was karena aku pernah opname karena penyakit ini.

Btw, bukan itu yang mau ku bahas saat ini. Aku ingin berbagi dengan kalian, cara melepaskan. Keikhlasan. Sebuah kata sulit bagi hati yang sudah mengidam-idamkan sesuatu atau seseorang. Tapi, aku baru saja melewati proses ini. Mari kita mulai dengan sesuatu.

Sebagai K-Popers, tentu majalah, DVD atau poster merupakan barang wajib yang harus dimiliki jika tidak mau ketinggalam berita. Namun, realita yang ada terkadang membuat kata wajib terdengar seperti tekanan di hati kita. Contohnya, baru-baru ini Korean Pop merilis majalah edisi yang membahas Super Junior from head to toe. Istilahnya, semua yang perlu kalian tahu ada di majalah itu. Awalnya, aku memang sangat menginginkannya sampai ku kira aku rela mengorbankan segalanya hanya untuk satu buah majalah. Percayalah padaku, aku mengalami keadaan yang mengenaskan kemarin saat menyadari uangku tidak cukup untuk membeli majalah itu. Aku meminta pada Ayahku, tapi beliau mengatakan lebih baik aku menggunakan uang itu untuk pelajaran. Aku marah. Sangat marah. Emosiku mengambil alih perasaanku. Aku tidak bisa berpikir jernih. Karena suatu perasaan bahwa hanya majalah itu satu-satunya pelipur laraku. Lalu, aku menelpon temanku dan menceritakan hal ini. Aku mengatakan padanya, andaikan aku menjadi si A yang kaya, cantik, dan pintar, mungkin aku tidak perlu merasakan hal ini. Namun, seperti sebuah pepatah,

True friend knows your weakness but shows your strength. Feels your fear but fortifies your faith. Sees your anxieties but free you spirit. Recognize you disabilities but emphasizes you possibilities.

 Dia menunjukanku kekuatan yang selama ini tidak pernah ku lihat dalam diriku. Nasihatnya sederhana saja, "Jangan ngeliat ke atas, Dil. Tapi liat ke bawah. Masih banyak orang yang ga beruntung dari kamu. Kalau kamu jadi si A, mungkin kamu ga bakal punya sahabat-sahabat seperti yang kamu punya sekarang." Sungguh, aku tertohok dengan jawabannya. Tiba-tiba saja, aku merasa sangat jahat. Aku egois dan hanya mementingkan perasaanku, bukan perasaan orangtuaku. Padahal aku sangat tahu, mereka sudah mengusahakan yang terbaik untukku. Lalu, setan macam apa aku jika aku harus menuntut lebih?

Akhirnya, perasaan ikhlas itu, mengalir dengan sendirinya. Air mata kekecewaan berganti dengan air mata bahagia. Dalam diam malam itu, aku membisikkan doa, jika aku melepaskan majalah ini, pasti Tuhan akan mengganti dengan yang lebih baik. Karena sesungguhnya, Dialah Maha dari segala Maha. Aku tak perlu takut saat aku tidak memiliki majalah itu. Aku lebih takut jika Dia tidak ada di sisiku dan membiarkanku terombang-ambing dalam perasaan ini.

Nah, sekarang, bagaimana harus mengikhlaskan seseorang...? Mari kita ambil contoh sederhana.

Aku termasuk seorang pecinta yang hanya mencintai tanpa dicintai. Pengulangan tragedi itu bukannya membuat aku terbiasa, malah membuat aku bertambah sakit. Aku pernah mencintai seseorang tanpa peduli perasaanku sendiri. Gilanya lagi, aku malah tersenyum saat dia bahagia dengan cewek lain. Ya, karena aku mencintainya dengan cara berbeda. Bukan dengan obsesi atau emosi. Aku mencintainya selayaknya manusia. Mungkin, dialah cinta pertamaku. Aku tidak peduli bahkan jika dia tidak melihatku. Asal ku tahu dia bahagia, itu sudah cukup untukku. Mengikhlaskan seseorang yang kita cintai bukan berarti melupakannya dan menghapus cinta itu. Karena hukum cinta jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Semakin kau menyangkalnya, cinta itu malah semakin kuat. Biarkan saja seperti air mengalir. Cintai dia dengan sewajarnya. Cintai dia dengan bahagia, bukan dengan airmata. Maka, perasaan cinta itu akan terasa lebih indah.

Chingu, ikhlas itu memang sulit. Sangat sulit. Butuh bertahun-tahun bagiku untuk meraihnya. Dan butuh beribu ironisme untuk menyadarinya. Seperti yang kemarin. Yah, aku ikhlas. Karena aku yakin, rencana Tuhan pasti selalu indah.

Temanku mengatakan, hal yang tidak pasti terkadang menyakitkan. Namun, apakah ada yang pasti di dunia ini? Kita semua hanya sekumpulan ketidakpastian yang digerakkan oleh tangan takdir tak kasatmata. Jika pagi ini hujan, apa siang nanti juga akan hujan?

Percayalah padaku, sekali kalian merasa ikhlas, maka akan sangat mudah untuk melepaskan hal lainnya....


Untuk tambahan, pagi tadi aku berangkat ke sekolah. Baru tadi aku benar-benar memperhatikan sekitarku. Ada tunanetra, ada penjual tikar, ada anak putus sekolah. Dan tiba-tiba saja, aku menyadari betapa beruntungnya aku. Hal sepele yang tidak pernah ku pikirkan sejak dulu. Mungkin, karena aku mulai belajar bagaimana cara menengok ke bawah, bukan ke atas. Orangtua ku mengatakan, mereka yang melihat ke atas tidak pernah berhasil hidupnya. Maka, mulai sekarang aku harus belajar cara terus melihat ke bawah...

Kawan, terkadang, kau merasa Tuhan itu tidak adil pada mu dan tidak pernah mendengarmu. Namun, sadarkah kau? Bahwa sebenarnya kitalah yang menjauh dari-Nya. Kitalah yang menutup hati atas bisikannya. Kita hanya ingin mendengar apa yang ingin kita dengar. Padahal, yang baik untuk kita belum tentu baik untuk Tuhan.


The Almighty God

Ketika kau merasa dunia kosong oleh nyawa-nyawa. Ingatlah bahwa Tuhan itu ada.

Ketika kau merasa baru menghirup nafas kehidupan. Ingatlah bahwa Tuhan Mahadahulu.

Ketika kau kehilangan semua yang kau indahi. Ingatlah bahwa Tuhan Mahakekal.

Ketika kau menghitung apapun serba ganda. Ingatlah bahwa Tuhan Maha Esa.

Ketikan kau telah melukiskan potongan hidupmu yang sempurna. Ingatlah bahwa Tuhan Maha Berkuasa.

Ketika kau berada di persimpangan jalan yang harus kau pilih. Ingatlah bahwa Tuhan Maha Menentukan.

Ketika kau mengagungkan sebuah nama dalam tahajudmu. Ingatlah bahwa Tuhan Maha Tahu.

Ketika kau mengerti kisahmu tak selamanya. Ingatlah bahwa Tuhan Mahahidup.

Ketika kau membisikkan tahmid sepelan suara angin. Ingatlah bahwa Tuhan masih dapat mendengarmu.

Ketika kau menyembunyikan apapun di sudut dunia. Ingatlah bahwa Tuhan selalu melihatmu.

Ketika kau melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an seindah nyanyian alam. Ingatlah bahwa Tuhan Maha Berkata-kata.

Ketika kau menemukan segala kesamaan dari semua yang ada. Ingatlah bahwa Tuhan berlawanan dengan semua yang baru.

Ketika kau merasa goyah dalam langkahmu. Ingatlah bahwa Tuhan Maha Berdiri Dengan Sendirinya.



(Kutipan Puisi dari Novel Izinkan Aku Bersujud by Tyas Effendi)


Aku mencengkeram lengan duduk pesawat dengan keras. Butiran keringat sudah mulai bercucuran di dahiku. AC pesawat tidak bisa meredam lembab yang dikeluarkan oleh tubuhku karena respon berlebihan ini. Ah, seharusnya aku sudah tahu ini akan terjadi. Aku yakin, seseorang di sebelahku kini tengah memandang ku dengan heran. Sama seperti respon orang kebanyakan karena reaksi abnormalku.

Aku mengingat apa yang dipesankan oleh Nenek Rose. Kendali pikiran. Ya, itulah yang dia katakan setiap kekuatanku ini kumat. Aku mulai menarik nafas dalam-dalam. Mengalirkan oksigen ke seluruh tubuhku. Meditasi dalam diam. Lagu-lagu favorit ku mendendangkan melodinya jauh dalam tempurung otakku. Aku memikirkan sebuah tempat damai dimana kubah langit biru melengkung dan bunga matahari menari. Sepertinya aku mulai bisa membayangkan tempat itu. Aku bisa mencium aroma yang sebenarnya hanya buatan oleh alam bawah sadarku.

Perlahan, kabut hitam itu mulai tersibak. Pikiran-pikiran aneh itu mulai memudar. AC pesawat kembali bekerja pada pori-pori tubuhku. Tak ada lagi bunyi teriakan dalam otak reptilku. Tak ada lagi teriakan minta tolong. Aku membuka mataku lalu menoleh ke samping, tempat seorang remaja ibu paruh baya memandangku aneh. Yang bisa ku berikan hanya senyum datar...


Ya, aku memang abnormal. Kekuatan mistik jika dihubungkan dengan dunia klenik. Tapi, nenek ku sekaligus mentorku mengatakan aku bukanlah manusia gaib yang bisa melihat tembus pandang ataupun melihat hal-hal aneh. Kekuatan ini alami, begitu kata dia. Yah, aku tidak bisa melihat kealamian ketika bisa membaca pikiran orang lain, memasuki mimpi orang lain, melihat masa depan, atau bahkan melihat sesuatu yang bahkan bukan seorang manusia. Orang pertama yang ku baca pikirannya adalah sahabatku, Jingga. Entahlah, rasanya seperti beberapa truk lewat di depan rumahmu. Bergemuruh. Tapi itu bukan pikiranku. Dan, Jingga terus penasaran serta terus mendesakku. Anehnya, saat dia menanyakan siapa yang tengah dipikirkannya kini, aku selalu benar. Sejak saat itu, aku merasa otakku bukanlah milikku lagi. Seakan otakku hanyalah podium besar dimana puluhan orang singgah untuk menggunakannya.


Beberapa hari setelah itu, Nenek Rose mengunjungi rumahku. Anehnya, dia tidak ingin menemui ibuku. Justru dia mengajakku ke sebuah kamar yang ada di rumahku. Lebih aneh lagi, karena sebelumnya, kamar itu termasuk lokasi terlarang di rumahku. Ibu mengatakan kamar itu akan terbuka dengan sendirinya saat takdir telah menemukan Dia. Aku mengira itu hanyalah dongeng karangan Ibu. Sampai pada hari itu....


Ya, kamar itu adalah milik Nenek Rose dulu. Dia menceritakan padaku semuanya. Bahwa aku mewarisi kekuatannya. Dan aku harus menemukan misiku agar kekuatan ini tidak sia-sia. Untuk seorang remaja yang baru berumur 16 tahun kala itu, tentu saja aku bingung dan tidak percaya. Namun, lagi-lagi fakta yang diberikan Nenek Rose membuatku bungkam. Contohnya, Jingga. Setiap ada hal buruk yang terjadi padanya, aku lah yang selalu ada disana. Apapun yang dia pikirkan, seakan aku telah mengetahuinya satu detik sebelum dia mengatakannya. Jingga yang pikirannya hanya dipenuhi oleh logika dan logika tunduk patuh begitu aku mengajukan teori mistis yang selama ini disangkalnya. Itulah kekuatanku. Bisik Nenek Rose.


Sejak itulah, aku mengasah kemampuanku dan cara mengendalikannya. Seperti tadi, tiba-tiba saja berjuta pikiran melesak ke dalam kepalaku. Teriakan minta tolong. Jerit kegembiraan. Desah kepuasan. Semuanya tidak cukup untuk ditampung dalam otak sekecil punyaku. Itulah gunanya meditasi. Untunglah, kali ini aku berhasil..


Sepertinya, aku butuh tidur...


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sumpah, koper yang ku seret ini pasti menandingi berat seekor kingkong. Bandara Soekarno-Hatta yang panas benar-benar membuat cuaca hari ini sempurna. Kalau saja tidak teringat dengan misi ku seperti yang disebut-sebut oleh Nenek Rose, aku tidak sudi berdesak-desakan disini, demi orang lain pula.


Nenek Rose mengatakan, bukan kita yang menentukan misi itu. Tapi misilah yang menentukan kita. Dan, misi yang memilihku kali ini cukup bombastis kalau tidak bisa dibilang gila. Misi pertama yang membuatku ingin menepuk pipiku dengan keras, siapa tahu ini mimpi, kan?


Sebagai intro, mari ku perkenalkan kalian dengan duniaku. Aku dan Jingga adalah para K-Pop. Namun, idola kami jauh berseberangan. Jika aku adalah ELF dan Cassie, maka dia adalah penggemar produk yang masih fresh, Shawol. Sebagai Cassie, tentunya aku tidak setuju dengan berpisahnya 5 jagoanku itu. Maka, malam saat aku membaca pikiran Jingga untuk pertama kali, malam itu jualah aku bisa melihat emosi tersembunyi dari Yunho, Jaejoong, Xiah, Yoochun, dan Changmin. Ada sesuatu yang aneh di mata mereka. Bahkan, aku bisa merasakan emosi mereka. Ya, bukankah sudah ku katakan bahwa aku ini abnormal? Singkat cerita, aku tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh Cassie yang lain. Lalu, keyakinan itu menelusup pelan dalam diriku. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya. Mungkin seperti belitan ular. Mengendap. Halus. Membius. Namun pasti. Aku tahu, hanya tahu, bahwa inilah jawaban aku memiliki kekuatan ini. Untuk menyelamatkan mereka. Dari apa..? Jangan ditanya, aku pun sudah cukup frustasi mencari jawabannya.


Misi yang akan memilihku. Itulah hal yang ku ingat saat Om ku menyerahkan tiket PP ke Jakarta plus tiket konser JYJ. Tidak tanggung-tanggung VIP A. Om ku mengatakan bahwa travel yang digunakan JYJ adalah travel pusat dimana Om ku sebagai manajer di travel cabangnya. Ya, takdir telah menentukan jalannya sendiri untukku.


Maka, disinilah aku. Seorang remaja polos tanpa bekal sama sekali di belantara Jakarta dengan kekuatan abnormal untuk menyelamatkan pujaan gadis di seluruh dunia.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Pernahkah kalian merasa mengenali sesuatu jauh disana namun kalian tak tahu apa? Aku merasakannya kali ini. Aku mengenali gelombang pikiran ini. Tidak seperti pikiran lain yang asing dalam alam bawah sadarku. Pikiran ini, sangat ku kenal. Seperti teman lama. Lautan orang yang ada di bandara tidak menyurutkan keinginanku untuk mengenali pikiran ini. Entahlah, aku juga tak mengerti. Seingatku, hari dimana aku tiba saat ini juga merupakan hari kedatangan JYJ ke Jakarta. Mungkinkah, ini mereka? Apakah, aku benar-benar akrab dengan pikiran mereka? Aku tidak mengerti.


Aku bisa merasakan pikiran itu mendekat. Gelombangnya semakin kuat. Membelai seperti anak kecil. Aku tahu pikiran siapa ini. Tapi, apakah itu mungkin?


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

YOOCHUN POV

Aku memandangnya sedari tadi. Gadis yang tengah memelototi gerai pernak-pernik dari Kalimantan. Kenapa aku tahu? Tentu saja karena aku memang terobsesi untuk pergi kesana. Mungkin itulah daya tariknya.


Dia memakai jaket kulit berwarna hitam dengan topi rajut berwarna merah. Rambut coklat bergelombangnya dibiarkan tergerai begitu saja. Aku yang biasanya bahkan tidak sempat untuk melihat orang-orang disekelilingku, terbius olehnya. Aku tidak memperdulikan lagi rombonganku yang telah meninggalkanku. Tak ada yang penting bagiku sekarang, aku hanya ingin menemuinya. Sekedar melihat mukanya lebih dekat. Dan menyimpannya sebagai memori indahku. Karena siapapun dia, dia terlihat begitu memikat.


Tapi, bagaimana jika ternyata dia adalah seorang Cassie, seorang Cassie akut seperti mereka yang berada di Korea? Bagaimana jika ternyata dia mengenali ku? Sesaat, aku ragu. Pada saat itulah dia berbalik dan menatapku.......


Pernahkah kalian mendengar bahwa saat kita bertemu dengan Dia, dengan Dia yang kita cari-cari, waktu akan berhenti? Kebisingan akan memudar? Hatimu mendendangkan harmoni indah dengan ritme yang membuatmu terlena? Ya, itulah yang kurasakan saat ku melihatnya. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain begitu cantiknya dia. Aku tidak pernah merasa seperti ini. Sungguh, siapa dia....?


Tubuhku seperti bertindak lebih jujur daripada pikiranku. Tubuhku mengambil alih pikiranku yang telah membeku. Aku berjalan ke arahnya.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Oh Ya Tuhan, benar dugaanku. Pikiran itu, milik Yoochun. Begitu aku berbalik, dia tengah memandangku. Tidak, dia tidak boleh tahu bahwa aku seorang Cassie dengan misi ganda, bertemu dengan mereka sekaligus membebaskan mereka. Maka, aku hanya mematung disini. Padahal, sedari tadi, emosi ku benar-benar ingin berteriak karena dipandang dengan tatapan Apollo oleh seorang Yoochun.


Dia berjalan ke arahku. Dia mendekatiku. Dalam jarak dua meter, aku sudah bisa mencium aroma tubuhnya. Campuran mint dengan citrus. Seperti aroma tanah setelah hujan reda. Membiusku. Sial, mengapa aku tidak bisa berbalik?


"Hi, do u know something about that painting?" Yoochun. Sekarang. Berbicara. Pada. Ku. Dengan. Matanya. Dia. Memandangku. Aku. Benar. Benar. Akan. Pingsan.


"Umm, yes, so far, I know that is the forest in my hometown." Sungguh, aku ingin sujud syukur sekarang. Otakku bisa diajak bekerja sama. Bukannya sama membeku dengan emosiku kali ini.


"You're from Kalimantan?" Pandangan Yoochun yang awalnya terpaku pada lukisan hutan itu beralih padaku. Gila. Para Cassie mungkin akan membunuhku jika mereka tahu hal ini.


"Yes. I am. In Banjarmasi. Not in equatorial line. Thanks God for that." Aku memberikan senyum ku. Senyum paling manis yang pernah ku tahu.


"Why? I heard that the nature in equatorial line is great. It would be better if u lived there. Maybe I'll be glad to visit you." Hah? Apa? Itu, Yoochun godain aku? Oh Tuhan. Aku butuh nafas buatan


"Yeah. But, it is so hot. Moreover, I really want the snow come in Indonesia. Jadi, ku pikir akan aneh jika aku tinggal disana dan mengharapkan salju." Lidahku berbicara dengan mulus dan lancar.


"Hahaha. There is snow in my hometown. Maybe you will like to stay there." Yoochun tertawa. Dia tertawa denganku. Nenek Rose benar. Inilah misiku. Takdir menunjukkan kekuatannya. Takdir telah bicara. Yang harus ku lakukan, hanya mengikuti arus tanpa melawannya.


"Thank you for offering it to me. Haha. But, no thanks. I won't stay in your country with no guarantee." Aku tertawa. Mengimbangi tawanya. Satu-satunya yang ku harapkan kali ini hanya semoga suaraku semerdu tawa Tiffany.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

YOOCHUN POV

Ya Tuhan, suaranya benar-benar merdu. Semerdu gemericik air yang sering ku bayangkan. Semerdu suara tawa Dewi di kahyangan sana. Semerdu suara lonceng di rumahku. Ya, suaranya terdengar seperti rumah. Aku telah jatuh cinta. Semudah ini? Mungkin. Aku tidak ingin memikirkannya. Aku tidak ingin melewatkan satu detik pun untuk memikirkan hal selain dia.


Matanya berwarna coklat. Coklat terang. Aku yakin, matanya adalah bagian yang pertama kali diperhatikan saat seseorang bertemu dengannya. Matanya seakan mengucap ribuan kata dalam waktu satu detik. Seperti permukaan air. Berubah-rubah sesuai gejolak alam yang ada. Sesuai pantulan bayangan yang tercipta. Hidungnya mungil seperti gadis Asia pada umumnya. Tidak seperti gadis Korea yang telah dicekcoki berbagai macam operasi pemolesan wajah. Bibirnya merah penuh. Sangat menggoda. Seperti apel merah ranum yang sering ku nikmati. Kulitnya putih. Dan dia mungkin 10 cm di bawahku. Ya, dialah orangnya...


Tapi, ritual memandangi wajahnya tiba-tiba terputus dengan suara berisik di belakangku. Aku melihat dia terkejut. Aku masih linglung. Butuh 10 detik untuk mencerna keadaan yang berbalik 180 derajat ini.


"Yoochun oppa? Is that really you?" Bodohnya aku. Kenapa tidak terpikir kemungkinan tentang banyaknya Cassie yang berkeliaran di bandara ini.


Aku menatapnya sekali lagi dan mengatakan 'Sorry' tanpa suara. Sepertinya dia mengerti dengan senyum dan anggukannya. Apakah dia mengenaliku sebagai JYJ, atau sebagai TVXQ, atau sebagai artis Korea. Ah, aku tidak peduli. Aku  hanya ingin dia melihatku sebagai Yoochun. Bukan dengan status di belakangnya.


Perlahan. Aku berbalik. Menatap 5 gadis remaja di depanku dengan senyum terpaksa. Lalu....... aku mengambil langkah seribu. Sebodo dengan pemberitaan di media nanti. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku sendiri saat ini...


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dia lari. Dengan kencang. 5 gadis remaja tadi sempat shock, tapi mereka mengejar Yoochun juga. Sementara aku masih terpaku disini. Hanya sampai sini? Lalu, dimanakah jalan takdir itu? Bukankah harusnya ada jalan yang bisa mempertemukanku lagi dengan Yoochun? Tapi, mengapa semuanya terputus sampai disini?


Aku memandang ke bawah. Apa itu? Handphone? iPhone? Aku mengambilnya. Sepertinya ini benar milik Yoochun. Senyum tergores di bibir ku. Yah, takdir memang tidak meninggalkan ku. iPhone ini, entah bagaimana, terjatuh dari saku Yoochun. Menunjukkanku ke jalan terang. Sekali lagi.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Ayyy girl. Tried to make you my baby. Instead you make me go crazy...." Nada dering itu menghentak di mini bus travel jemputanku. Puluhan mata memandangku kali ini. Aku mengerut dan tersenyum penuh penyesalan pada mereka.


Aku menatap iPhone yang layarnya berkedip itu. Huruf Hangul lagi. Tapi, sepertinya aku mengenal tulisan ini. Sepertinya, Jaejoong lah yang menelpon ke handphone Yoochun. Tanpa pikir panjang, aku langsung menekan tombol hijau.


"Hello..." Aku yakin, suaraku lebih menyerupai anak kucing kejepit bajaj daripada suara manusia.


"Umm.. Hello.. Is this Yoochun's phone?" Logat Jaejoong terdengar aneh di telingaku. Tidak seperti suara Yoochun yang dalam dan pas di telinga. Eh, kok malah ngelamun kaya gitu sih?


"Yes. I am his new friend. Tadi handphone Yoochun jatuh waktu aku ketemu sama dia. Jadi aku simpen. Kamu Jaejoong?" Aku sengaja memelankan kata 'Jaejoong', siapa tahu di minibus ini juga ada beberapa Cassie.


Lama tidak terdengar balasan di sana. Mungkin, Jaejoong menimbang beberapa kemungkinan. Aku berharap bukan kemungkinan terburuk yang dia putuskan.


"Iya, benar. Aku Jaejoong. Dari tadi, aku tidak bisa menemukannya. Kau tahu dimana dia?"


"Tadi, dia buru-buru meninggalkanku. Dan aku sudah tidak bisa menemukannya lagi di bandara. Bagaimana kalau kamu mengambil handphonenya dulu. Aku merasa tidak enak."


"Baiklah, terima kasih. Aku hanya takut dia tersesat dan diculik oleh para Cassie. Kau tahu seberapa gilanya mereka, kan?" Aku tidak tahu Jaejoong bercanda atau tidak. Ku putuskan untuk tertawa saja.


"Haha. Tenanglah. Aku tahu Yoochun. Dia tidak mungkin sebodoh itu." Ya, aku memang mengenal Yoochun. Aku habiskan malam-malam dengan memandangi foto dan mengenal emosinya. Aku belajar untuk mengenal pikirannya. Bagaimana cara dia merasa. Tentu saja aku mengenalnya. Mungkin, lebih dari yang lain. Dan untuk Jaejoong, tidak usah ditanya. Aku merasa menjadi dirinya. Aku merasa berbagi pikiran dengannya. Aku mengirimkan gelombang ku padanya. Agar dia mengenaliku saat kami bertemu nanti. Sedangkan untuk Xiah, entahlah. Seakan ada dinding besar yang menghalangiku untuk mengenalnya. Aku belum menemukan gelombang yang pas dengannya. Tapi, aku percaya semuanya hanya masalah waktu.


"Kami menginap di Hotel Red Wine. Bisakah kau datang kesini?" Aku terkesiap. Tidak siap dengan kebetulan ini. Aku juga berada di hotel yang sama dengan mereka.


"Kebetulan sekali. Aku juga berada di hotel itu. Bisakah kau menghubungiku lagi nanti? Aku harus pergi sekarang...."


"Tentu saja. Aku akan menghubungimu 30 menit lagi. Bye." Perasaanku saja, atau suara Jaejoong terdengar kecewa saat berpisah denganku. Baguslah. Paling tidak berarti usahaku membaca pikiran mereka tidak sia-sia.


"Oke, bye..."


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(to be continued)

Sementara novel ku yang ini ga kelar-kelar karena banyaknya kendala, kayak fashion show di Paris, rekaman di London, honeymoon sama Siwon di Itali, sama wisata kuliner bareng Han Geng di Bali, aku memutuskan buat nyeritain sinopsisnya aja ya. Hehehe. Sebenernya plot dan scene nya sudah tersimpan di kepalaku. Cuman males aja buat mulai nulisnya. Kayaknya aku lebih cocok dari sutradara deh. Haha.

Dylandia Elfyza, seorang pelajar di Banjarbaru, adalah seorang ELF akut selama 2 tahun belakangan. Selama periode gilanya, dia ditemani oleh teman kecilnya, Dido Catur Pratama. Blasteran London, Itali, Jepang dan Indonesia. Bayangin aja matanya adalah mata Justin Bieber, hidungnya hidung Siwon, bibirnya punya Siwon, dagunya punya Han Geng, rambutnya keriting imut warna coklat pasir, pokoknya cakep deh. Nah, suatu hari, Dyland ini baca berita kalo Leeteuk bakal keluar dari Suju karena ngikutin wajib militer. Dyland kecewa. Sangat kecewa. Dia merasa sia-sia terus mencintai SUJU selama ini sementara mereka ternyata tidak memperdulikannya. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengakhiri mimpinya bersama SUJU dan hanya fokus pada kenyataan. Ritual mengakhiri mimpi itu dilakukannya dengan melempar botol berisi surat di dalamnya untuk Dewa Zeus, Dewi Mimpi, Dewi Waktu, Dewi Memori dan Dewi Cinta. Dia memutuskan untuk tidak lagi percaya pada dongeng semacam itu.
Ternyata, surat itu sampai ke tangan Dewa Dewi di atas sana. Dewa Zeus pun membuat keputusan bahwa Dyland harus dibuat percaya lagi pada keajaiban. Dia pun menyuruh Dewi Mimpi untuk membuat mimpi yang baru untuk Dyland. Dewi Waktu untuk memundurkan waktu untuk Dyland agar dia bisa membuat keajaiban yang lain. Dewi Cinta untuk mewujudkan cinta Dyland. Dan Dewi Memori untuk menjaga memori Dyland sekaligus menghapuskannya.
Mereka berlima menemui Dyland yang saat itu tengah berada di kamarnya. Berikut scene yang tergambar di kepalaku..

"Siapa kalian.....?" Dyland bukan main terkejutnya saat 5 makhluk itu berdiri di hadapannya. Mereka jelas bukan manusia. Karena tubuh mereka hanya terdiri dari partikel cahaya dan berpendar dalam kamar Dyland yang gelap.
"Kami adalah Dewi yang selama ini selalu kau percayai." Dewi Waktu menjawab ketakutan Dyland.
"Aku pasti bermimpi." Dyland memukul kepalanya. Ditemui oleh 5 Dewi bukanlah mimpi yang indah, apalagi jika skenario setelah ini adalah keluar dari takdir yang sebenarnya.
Dewi Mimpi tersenyum. "Benar. Ini adalah mimpi. Dan, di mimpi kau bebas melakukan segalanya, kan...?"
"Ya, kau bisa mewujudkan cintamu, Dyland. Ini adalah kesempatan terakhirmu mencintai mereka. Hanya dalam mimpi ini.." 
"Lalu, apa yang harus ku lakukan?"
"Kau, hanya harus mengubah sejarah." Dewi Waktu menjawab, sayangnya, Dyland tidak melihat senyum licik di bibirnya.
"Aku, sebagai Dewi Waktu, akan memundurkan waktu untukmu di saat Han Geng belum keluar dari SUJU. Tugasmu hanyalah bagaimana supaya Han Geng membatalkan niatnya untuk keluar. Mudah, bukan..?"
"Ya, tentu saja. Aku akan melakukannya. Ini mimpi, kan? Ku harap, aku tidak akan terbangun sebelum misiku berhasil." Dyland tersenyum lebar.
"Tenang saja. Kau tidak akan terbangun..."
Segera setelah Dewi Waktu berkata begitu. Mereka menghilang. Kamar Dyland terang kembali. Jam di ruang tengah berdentang. Dyland melihat jam di kamarnya. Jam 12 malam tepat. Aneh, padahal tadi baru jam 9. 
Tapi, dentangan yang harusnya berlangsung 12 kali itu, terhenti pada dentangan ketiga. Jam di kamar Dyland ikut mati.
Lalu, semuanya menjadi aneh. Jantung Dyland berdetak kencang serasa pembuluh darahnya disumbat oleh benda tak kasatmata. Udara terasa padat. Angin yang datang dari ventilasi kamar Dyland, hilang entah kemana. Udara tidak panas juga tidak dingin. Tak ada suara apapun yang didengar Dyland. Hanya nafasnya dan jantungnya. Waktu.... terhenti....
Dalam waktu sepersekian detik, pandangan Dyland gelap.....
Dyland, kau harus menyelesaikan misi ini selama 4 minggu. Jika tidak, kau akan terjebak di masa lalu selamanya. Sejarah akan berubah menjadi lebih buruk. Kau tidak akan menjadi manusia lagi, melainkan tahanan kami. Namun, jika kau berhasil. Kau akan menyatukan mereka kembali. Dengan satu syarat, kau akan kehilangan memori tentang mereka. Begitu juga mereka akan kehilangan memori tentangmu. Kau tidak mengenal Super Junior. Mereka tidak pernah mengenal Dyland, gadis yang sesungguhnya telah menyelamatkan mereka. Apa kau siap?
Suara itu terus mengiang di otak Dyland. Dia merasa baru saja menjalani sebuah perjalanan panjang dengan jutaan rintangan. Matanya sangat berat untuk dibuka. Tapi, dia harus membuka matanya karena sapaan lembut yang tengah memanggilnya kini.
"Hey, who are u? Come on. Wake up." Suara itu terus berputar seperti tombol repeat. Dengan susah payah, Dyland membuka matanya.
Dan........ muka itu terpahat bak lukisan Apollo di museum Yunani. Tanpa cacat. Flawless. Benarkah itu dia..?

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bersambung nih. Kira-kira, tuh cowok siapa ya..? Lalu, Dyland  sebenarnya ada dimana sih..? Tunggu kelanjutan cerita ini setelah aku punya mood bagus buat nulis lagi ya. Hehehehe.

Kemarin, aku baru saja mendownload album terbaru JYJ, Their Rooms. Dan aku langsung mencari lirik plus translationnya. Tak ada yang aneh saat pertama aku membaca liriknya, tapi, aku menemukan satu lirik lagu yang tidak ada dalam lagu yang ku download. Judulnya, Untitled Song Part 1. Aku penasaran. Terlebih, baris pertama dari lagu itu berbunyi seperti ini. 

Have I told you this kind of story before?
In 2003, we completed a few months of probation period, and we finished our first task with ease.
In 2004, we were employees of the month, and achieved many best results, but we couldn’t be satisfied with those alone.
TVXQ memulai debutnya pada tahun 2003 dan pada tahun 2004, temanku berkata mereka meraih sangat banyak penghargaan. Alert di kepalaku pun langsung berbunyi, lagu ini, dibuat dan dinyanyikan JYJ untuk mengenang tahun-tahun saat mereka masih bersama Yunho dan Changmin.
Tapi, keanehan tidak berhenti sampai disini. Misiku sebagai Cassie, aku akan mengungkap misteri di balik perpisahan JYJ dan TVXQ. Aku yakin, ada unsur rekayasa yang sengaja dibuat oleh SM Entertaiment. Semuanya tidak murni karena masalah kontrak. Karena, persahabatan antara Yunho, Jaejoong, Junsu, Yoochun, dan Changmin terlalu erat untuk dipisahkan hanya karena masalah itu.
We weren’t able to endure anymore and we started wishing for more things.
In 2005 we branched overseas, and we thought it would be easy like how it was in Korea.
For our first challenge, we recorded our worst results and from then on, our confidence dropped.
A languge we couldn’t even speak,
Everyday, we stayed at the place we were living at and our company
They said it was for our own sake and that that imprisonment was not an imprisonment.
Song Hye Jin, temanku yang juga seorang Cassie, walaupun sekarang dia masih dalam masa berkabung karena berpisahnya TVXQ, mengatakan pada ku bahwa TVXQ memulai debut mereka di Jepang pada tahun 2005. "Bahasa yang bahkan tidak bisa kita pelajari. Setiap hari, kita tinggal di tempat yang mereka sediakan. Mereka bilang, semua itu adalah demi kita dan rumor bahwa kita adalah tahanan itu salah." Sampai pada titik ini, beberapa tabir telah terbuka. TVXQ diperlakukan tidak sebagai manusia oleh SM melainkan hanya sebagai tahanan dan mesin uang untuk mereka. Aku tahu, TVXQ melakukan itu semua untuk para Cassie. Tapi, pada satu titik, bisakah Cassie juga memandang mereka sebagai manusia, bukan hanya sebagai penghibur dan motivasi hidup semata. Jujur, sedikit banyak, aku merasa sama dengan SM. Cassie menuntut TVXQ untuk melakukan hal yang lebih dan lebih sampai pada suatu limit mereka tidak bisa lagi. TVXQ itu seperti lilin. Mereka bersinar untuk orang lain dengan api yang mereka miliki. Padahal, api itu sendiri membakar mereka...
Extreme loneliness, tears, rage; all of these made us united as one.
Even if anything were to happen by chance, we said that we would not leave each other…
While saying that we would only resemble each other’s good side,
We made up our minds and ran off.
 "Kesendirian yang hebat, airmata, derita, semua itu membuat kita menjadi satu. Bahkan jika ada  beberapa hal yang terjadi di luar dugaan kita, kita berkata bahwa kita tak akan meninggalkan satu sama lain." Aku menangis. Entah untuk yang keberapa kalinya. Tapi, tangis ku kali ini berbeda. Aku tidak menangis karena aku kehilangan TVXQ secara utuh, aku menangis tidak karena aku harus mencintai mereka secara terpisah, sebagai JYJ dan TVXQ. Aku menangis karena membayangkan, tidak akan ada lagi Yunho yang akan menghibur Jaejoong. Tidak akan ada lagi 5 suara yang dulu berjanji untuk selalu bersama. Yang ada, hanya 3 suara sebagai JYJ. Lead vocal, top baritone, dan low baritone. Yang ada, hanya 2 suara sebagai TVXQ. Bass dan top tenor. Aku menangis untuk mereka. Aku menangis dalam posisiku sebagai manusia. Bukan sebagai Cassie atau siapapun.
Finally, one day, we achieved the best like how we had earnestly wished for.
We each took our handphones and contacted our family and friends.
That day was approaching,
From then on, everything started turning out well.
Selling tens of thousands of records and winning every award, we felt our results.
Even though tears flowed, it felt like they fell gently.
Because compared to any kind of sadness, we were happy.
Till the end, we do not give up and come running.
Strength greater than any other strength.
As expected, because we were one.
 "Walaupun airmata terus jatuh, airmata itu terasa bahagia. Karena dibandingkan dengan kesedihan, kita lebih bahagia. Sampai pada akhirnya, kita tidak menyerah dan terus berlari. KEKUATAN YANG LEBIH DARI SEGALA KEKUATAN. Karena, kita adalah satu." Aku speechlees. Aku tak tahu apa yang harus ku katakan. Di telinga dan di otakku, puluhan lagu TVXQ dan JYJ menghentak. Hatiku mengalunkan lagu mati. Aku tak tahu apa lagi yang harus ku pikirkan. Serasa ada sesuatu yang hilang jauh dalam hatiku. Aku tak tahu itu apa. Dulu, mereka bahagia. Dulu, mereka adalah satu. Dulu. Itu dulu. Past tense yang tidak mungkin terjadi lagi.
You who have already changed (I can’t always stay there.)
I will turn my back on you first (It wasn’t possible to just keep on crying.)
You, who are going further away from me gradually, I will just call your name. (Please fly me far away to that sky)
 "Kau telah berubah. Aku tidak bisa lagi tinggal disini. Aku akan berbalik dan terus menangis. Kau, menjauh dariku. Aku terus memanggil namamu. Tolong, terbangkan aku ke langit itu." Ku pikir, tahap ini mulai masuk saat ada konflik internal dalam TVXQ. Entah itu antara mereka dengan SM, atau memang antara member lainnya.
Running for a while,
Covered by a huge wall beyond imagination
The thought “Has it always been this dark” remained in my head for a while
 "Berlari untuk sementara. Ditutupi oleh dinding besar di luar imajinasi. Pertanyaan 'apa akan selalu segelap ini' berada di kepalaku untuk sementara." Kata 'my' disini ku pikir merujuk pada Jaejoong. Karena dia saat berada di TVXQ dengan saat di JYJ jauh berbeda. Sepertinya, dia mengalami penuaan dini. Dia yang selalu mudah tersenyum berubah menjadi dia yang berusaha untuk tersenyum. Aku ingin melakukan sesuatu, tapi apa...?
Such a thing happened once
Business expenses which were increasing, Debts which kept increasing
Something that I couldn’t handle on my own
 "Harga bisnis yang mulai meningkat. Hutang yang mulai menggunung. Sesuatu yang tidak bisa ku atasi sendiri." Mereka kesakitan saat media memberitakan berita simpang siur tentang TVXQ. Pada saat seperti ini, aku ingin berteriak. Kemana para Cassie..?!! Apa mereka mempercayai begitu saja berita yang beredar. Apa mereka hanya memikirkan diri sendiri saja tanpa memikirkan hati 5 orang yang terseok-seok mencari bantuan itu? Apa ini semacam simbiosis, sementara yang satu menguntungkan, dan yang lain mengabaikan..?
This is something our boss said to us in the past
If you need anything, just say it, since we will always be family.
Whatever you need, just say it
Those words gave me courage and I made a phone call to ask for a favour
Though I felt something strange, because he was someone I could rely on,
Because they were a family which would be together with us forever,
I gathered the courage to request the favour, but what I received was just a cold rejection.
Though I was very angry with his reply, I held it in and requested for the favour again.
He hung up.
I couldn’t stop the tears which flowed.
I was in a state of confusion over the thought that they weren’t the family that I had believed they were for that period.
When he needed us, we were family, When we needed him, we were strangers.
 "Manajer pernah berkata. Kalau kita membutuhkan sesuatu, kita hanya harus meminta padanya karena kita adalah keluarga. Maka, aku menelponnya. Tapi, aku merasakan sesuatu yang aneh karena dia adalah orang yang bisa ku andalkan. Karena kita adalah keluarga. Nyatanya, aku hanya menerima penolakan yang dingin. Walaupun aku sangat marah. Aku menelponnya lagi. Dia menutup teleponnya. Aku tidak bisa berhenti menangis. Aku bingung karena pikiran bahwa aku pernah mempercayainya sebagai keluargaku. SAAT DIA MEMBUTUHKAN KAMI, KAMI ADALAH KELUARGA. SAAT KAMI MEMBUTUHKANNYA, KAMI ADALAH ORANG ASING." Lalu, mengapa mereka tidak meminta bantuan pada kami, para Cassie..? Seharusnya mereka tahu, kamilah yang sebenarnya keluarga. Bukannya SM Entertaimen terkutuk itu. Aku ingin mengatakan ini pada mereka. Tapi, bagaimana caranya...???!!!
It felt that as time went by, more amazing things happened.
Hearing that we had finally created success overseas and achieved results which we never imagined we would,
I entered the office with light steps on our pay day.
We members looked at each other with excited gazes while facing each other.
We praised each other saying that we had worked hard.
But the accounts statement we received at that time recorded that we were at a deficit.
Thinking that I had seen wrongly, I tried verifying again,
Everything were expenses.
Damn, How could that huge amount have been solely used to cover the expenses?
What kind of expenses? Where did that huge sum of money fly to?
I couldn’t believe it at all so I requested that they show me the detailed statement of the accounts which I had never calculated before.
They said they understood and they would show it to me, but in the end, I never saw those pieces of paper and only worked.
As time went by, my curiosity grew.
The more we put our heads together to think about it, the more we got a headache.
Lastly, if I were to say just one more thing,
Those things which we did for the company,
Were they truly meant for the company?
Ok, Let’s just say that they were. We are kind and will overlook it.
For us and the company, who have been together for many years, we will forget it.
Even so, that wasn’t right. Those weren’t words you should be saying to us.
Did you really plan to disappoint us right till the very end?
From the calls I received, you talked behind the team member’s back. It was really hard to trust you.
It was exactly as what the seniors had said. Did you want to keep the people who make money for you?
He said the family which we talked about in the company would make things difficult for us if we were to leave to company.
Those words by that senior could not leave my head.
Though there is more that I want to say, when this song gets out,
There would be someone who would torment us. Thinking of this makes me frustrated and I don’t think I can continue.
 Intinya, TVXQ bingung kemana uang yang selama ini mereka berikan pada perusahaan. Mereka hanya menandatangani kontrak tanpa tahu jumlah uang yang harusnya dihitung. Rasa penasaran mereka terus bertambah. Tapi, semakin mereka memikirkannya, semakin mereka sakit kepala dan frustasi. Senior mereka mengatakan akan sangat sulit jika mereka meninggalkan perusahaan dan melupakan orang-orang yang membuat mereka terkenal. "Walaupun sangat banyak yang ingin ku katakan, saat lagu ini keluar. Akan selalu ada orang yang menyiksa kita. Berpikir seperti ini membuatku tidak bisa melanjutkannya lagi.
In any case, though it is tough, we are working hard to live well.
Despite someone tormenting us, we are working hard to really smile.
This is definitely not an effort which we made just for a product.
This is an effort made because as a human, on the day that I die, I do not want to have any regrets.
Yes, in the end it is JYJ.
 "Dalam beberapa waktu, kita bekerja keras hanya untuk hidup dan tersenyum. Ini bukanlah sesuatu yang kita buat untuk produk. Ini adalah kesempatan kita sebagai manusia. Pada hari saat ku mati, aku tidak ingin mempunyai penyesalan. YA, INILAH AKHIR DARI JYJ." Mungkin, mereka merasa bebas saat tidak harus menjadi TVXQ lagi. Mungkin, mereka memang bahagia. Mungkin, memang harus begini jalannya. Dan, tidak ada yang pasti di dunia ini. Aku hanya bisa berasumsi dan berspekulasi. Aku hanya menyampaikan pendapatku. Aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka. Jika itu berarti harus berpisah dengan TVXQ, maka, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apalah arti suaraku di tengah-tengah banyaknya Cassie yang lain..?
Yesterday and Today, though I thought for a whole day,
I am able to feel the difference between then and now at 25, my age. 
 Jaejoong tahun 2011 ini berumur 25 tahun. Maka, jelas bahwa lagu ini adalah ciptaannya.

Now I will put down my pen.
Even so, my heart is at ease.
Because I can feel the fans’ love…
I did it because I thought I would be able to empty the pile of burdens I had in my heart.
Though nothing is easy, I am at ease inside.
We are happy because we have a family which is you fans.
I am always thinking of you all…
I love you.
 "Aku akan meletakkan pulpen ku. Walaupun begitu, aku merasa ringan. Karena aku bisa merasakan cinta para fansku.." Ya Tuhan, Jaejoong oppa. Aku merasa... bahagia. Berarti, dia mencintai kami, para Cassie. Dia mencintaiku. Dia masih mengingat kami. Dia tidak berubah walaupun dia tidak sama lagi. Cintanya tetap ada. "Aku melakukan itu karena ku pikir aku bisa menghilangkan kekecewaan dalam hatiku. Walaupun tidak ada yang mudah, aku merasa bahagia. Aku bahagia karena mempunya keluarga, yaitu kalian. Aku selalu memikirkan kalian. Aku mencintai kalian." Lagu ini, dibuat Jaejoong tidak hanya untuk mengenang masa-masa gembira dengan Yunho dan Changmin. Tapi, dia juga membuat ini untuk kita. Para Cassie. Yang terus mencintainya. Yang terus percaya padanya. Kita memang tidak pernah bertemu dengannya. Tapi, kita merasakannya, jauh dalam hati kita. Kita mencintainya dengan cara yang tidak bisa dimengerti orang lain. Kita bertemu dengannya dalam dunia paralel berbentuk jaring laba-laba yang menghubungkan Jaejoong, Yoochun, Junsu, Yunho dan Changmin dengan semua Cassie di seluruh dunia.

So, will you be able to believe in us till the end?
Will you be able to say that you love us?
Since we will work hard till forever, will you be able to be at our side.
Since, to us, you are still here,
And to you, we are here.
 "Maka, bisakah kalian mempercayai kami sampai akhir?" Ya, kami bisa Oppa. Bahkan jika kamu menyuruh ku terjun ke Segitiga Bermuda sekarang juga, mungkin aku akan menurutinya. "Bisa kah kau mengatakan bahwa kalian mencintai kami..?" Saranghae, Oppa. Aishiteru. Wo Ai Ni. Aku Mencintaimu. "Sejak kami telah bekerja keras sampai selamanya, bisakah kalian tetap tinggal di samping kami.?" Selalu, Oppa. Aku rela menjadi apapun hanya untuk berada di sampingmu. Jaejoong memohon pada kita, Cassie. Dia butuh kekuatan, kekuatan kita. Dia tidak butuh agensi yang bisa membesarkan namanya lagi. Karena dia telah bebas. Dia bebas mengembangkan sayapnya tanpa ada gembok yang bisa menahan gerakannya. Maka, bersediakah kalian, para Cassie, untuk membantunya terbang sendiri....?

I promise, I will hang out everything and show it to you.
Yes, we are JYJ.
"Aku berjanji, akan melakukan apapun dan menunjukkannya padamu. YA, KAMI ADALAH JYJ." Ya, mereka adalah JYJ. Mereka adalah Junsu, Yoochun, dan Jaejoong. Mereka mungkin tidak akan menyanyikan Mirotic atau Survivor lagi. Jaejoong serta Yunho mungkin tidak akan menjadi eternal couple lagi. Tapi, lebih daripada itu. Mereka, tetap mereka. Yang akan menyanyikan apapun untuk kita. Mereka tetap mereka yang selalu tersenyum untuk kita. Maka, mengapa kita tidak bisa membuat mereka tersenyum bahagia..? Bukan senyum yang dipaksakan karena tuntutan karier. Hanya senyum bahagia. Karena, kita rindu mereka untuk tersenyum seperti itu....

“You have raised the castle walls and closed the door firmly too.
They say that love is not an imprisonment.
Love is releasing someone to be free.
I don’t even wish for such things.
We, made by you, are not even half of half of half of that,
And will forever be frogs in a well.”
(Excerpt from Musical Mozart)
 "Kau telah membangun dinding kastil dan menutup pintunya. Mereka mengatakan cinta itu bukanlah tahanan. Cinta itu berarti membebaskan. Aku tidak akan memohon apapun. Kami, dibuat untukmu..." Ya, cinta itu membebaskan. Membebaskan seseorang untuk bahagia walaupun kita kesakitan. Cinta itu bodoh. Tapi, apalah artinya menjadi bodoh untuk orang yang kita cintai..? Mereka, mencintai kita dengan kebodohan. Mereka rela menjadi tahanan di SM Entertaiment untuk membuat kita bahagia. Maka, aku, sebagai Cassie, dan sebagai manusia, sekarang membebaskan mereka. Untuk melakukan apa pun sesuai keinginan mereka. Aku akan membayar tahun-tahun dimana mereka tidak bisa melihat dunia dengan 2 mata terbuka. Aku membebaskan mereka. Aku mengikhlaskan mereka untuk memilih jalan mereka sendiri.
Tapi, ada satu ganjalan kecil. Aku juga ingin membebaskan 2 tahanan lain. Yunho dan Changmin. Mereka... juga terlihat kesakitan. Aku ingin mereka juga merasakan kebebasan. Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya. Mungkin, aku akan membahas fakta-fakta perang dingin antara JYJ dan TVXQ di postingan selanjutnya. Ciao...
Tolong di komen ya.. Thanks..